Rumah Cahaya Penjaringan |
Buku telah menjadi teman saya
sejak bisa membaca. Ibu saya dulu telah membiasakan membaca buku dengan
membelikan majalah seminggu sekali dan buku-buku cerita lainnya. Akibatnya,
saya jadi ketagihan membaca. Saat liburan sekolah tiba, saya menyewakan koleksi
buku-buku tersebut dengan menggelar Koran di depan rumah. Teman-teman menyewa
dengan harga Rp 50,- per buku. Beberapa buku ada yang tidak dikembalikan.
Lucunya, saat saya menagih buku itu (yang jelas-jelas di bagian dalam tertulis
nama saya sebagai pemiliknya), teman saya bersikeras bahwa buku itu adalah
miliknya.
Hobi membaca terus ada hingga
saya dewasa. Bahkan, dari membaca pulalah saya bisa menulis dan menerbitkan
buku. Uniknya, selepas kuliah S1 di Fakultas Ekonomi, saya malah diterima
bekerja sebagai Editor di sebuah penerbitan, yang kemudian mempertemukan saya
dengan para pegiat perpustakaan Rumah Cahaya Depok. Saya menumpang di dalam
Rumah Cahaya (RumCay) Depok bersama pengurus perpustakaan. Saya tinggal bersama
ratusan buku koleksi RumCay Depok.
Perpustakaan adalah tempat di
mana kamu bisa membaca buku-buku secara gratis. Tujuan pembuatan perpustakaan
tentu saja untuk mengembangkan minat baca di kalangan masyarakat. Saya bahagia
sekali melihat Rumcay Depok didatangi oleh anak-anak, remaja, hingga orang
dewasa yang hendak membaca buku di sana. Mereka bisa seharian berada di Rumcay.
Rumcay Depok menjadi perpustakaan
pusat organisasi Forum Lingkar Pena dan terus menambah cabangnya di daerah. Pengurus
Rumcay Depok mendatangi tempat-tempat yang akan membuka cabang Rumcay yang
baru. Saya pernah ikut membuka cabang Rumcay di Bandung, Penjaringan (Jakarta
Utara), dan Pekalongan. Kami mendapatkan sumbangan buku dari beberapa penerbit.
Lumayan banyak juga, lho. Kami bisa membawa satu sampai dua kardus buku untuk
disalurkan ke Rumah Cahaya yang baru dibuka. Setiap kali mengantarkan buku-buku
itu, kami melihat wajah-wajah penuh kebahagiaan dari calon pembaca yang
kebanyakan anak-anak. Melihat buku seperti melihat emas. Matanya
bersinar-sinar.
Perjalanan yang paling berkesan
adalah saat mengunjungi Rumah Cahaya Pekalongan, karena itu jarak terjauh yang
pernah saya tempuh. Cerita komplitnya sudah ditulis di sini “Perjalanan ke Rumah Cahaya Pekalongan.” Selain ikut membuka Rumah Cahaya Pekalongan dan
bertemu dengan calon-calon penulis ternama, saya juga diajak berjalan-jalan ke
Pantai. Saya ingat sekali, Kota Pekalongan sangat sepi sehingga kita bisa
ngebut di jalan raya hehehe…. Keberadaan Rumah Cahaya Pekalongan tentu sangat
membantu mengembangkan minat baca anak-anak dan remaja, karena mereka masih
kesulitan mendapatkan buku-buku.
Bersama Pengurus Rumah Cahaya Pekalongan |
Salah satu penulis asal
Pekalongan yang sekarang sudah menjadi seleb You Tube adalah Aveus Har (Ave), seorang
penjual mie ayam yang sudah menerbitkan puluhan novel! Kisahnya bisa dijadikan
inspirasi bahwa siapa pun bisa menjadi penulis. Kamu bisa melihat profilnya di
video di bawah ini. Sekarang saya bangga, mengingat saya pernah bertemu
langsung dengan Ave dan mendengarkan curhatnya tentang menjadi penulis. Bukan
tidak mungkin, akan banyak penulis dari daerah terpencil yang berjaya di
nusantara karena hobi membaca. Selama ini, masih ada anggapan bahwa profesi
penulis hanya bisa dicapai oleh penulis dari kota-kota besar, karena
ketersediaan akses toko buku dan perpustakaan. Sedangkan di daerah terpencil,
sulit menemukan toko buku, apalagi perpustakaan.
Ada seorang calon penulis yang
mengeluhkan sulitnya mendapatkan buku, karena ketiadaan toko buku di daerahnya.
Sebenarnya tidak sulit, karena ada banyak toko buku online yang dapat
mengirimkan buku hingga ke daerah. Akan tetapi, besarnya biaya ongkos kirim
juga menjadi pertimbangan. Saya memiliki teman yang hobi baca dan tinggal di
daerah terpencil di Kalimantan Timur. Dia selalu membeli buku di toko online,
yang ongkirnya saja bisa mencapai Rp 50 ribu. Harga buku di kota-kota luar Jawa
juga lebih mahal daripada di Pulau Jawa. Bisa terpaut Rp 10 Ribu sampai Rp 20
ribu.
Sebagai penulis, saya juga
merasakan efek dari kurangnya minat baca terhadap penjualan buku-buku saya. Sudah
lama saya tidak bergabung lagi dalam aktivitas Rumah Cahaya (sejak menikah dan
punya anak), tapi saya punya mimpi untuk membuka perpustakaan juga. Sekarang
ini yang bisa saya lakukan adalah memberikan buku gratis (terutama buku-buku
yang baru terbit) kepada remaja-remaja melalui kuis, berhubung stok bukunya
tidak banyak dan yang berminat cukup banyak. Semoga saja, dari awalnya
diberikan gratis, lama-lama mereka mau membeli karena sudah suka membaca.
Harga buku semakin lama semakin
tak terjangkau, sehingga banyak buku yang baru setahun terbit, eh sudah
diobral. Saya antusias sekali bila ada toko buku yang berani memberikan harga
jauh lebih murah daripada harga di toko lain. Keuntungan sedikit tak mengapa,
asalkan yang beli banyak. Contohnya seperti penjual makanan lauk pauk di dekat
sekolah anak saya. Ibu-ibu berbondong-bondong mendatangi warungnya, karena
harga lauk-pauknya lebih murah dibandingkan warung makan lain. Alhasil,
jualannya cepat habis. Bandingkan dengan yang mahal, sehingga tidak habis.
Begitu juga dengan buku. Jika harga buku menyesuaikan daya beli, insya Allah
banyak pembaca pemula yang antusias membeli.
Ah, semoga saja hobi baca dapat
menjadi budaya di negara kita. Sehingga buku dapat dimasukkan dalam kategori “makanan
pokok.” Ya, buku adalah makanan untuk otak kita.
Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca
Semoga minat baca masayarakat semakin tinggi ya... Dan ada solusi dari pemerintah atas kesulitan menjangkau buku ini, tak hanya relawan saja yang bergerak... Buku2 bisa lebih murah, amiiin... *suka banget buku, tapi sering kebentur harga :(
ReplyDeleteAamiin mbak, tapi memang minat baca masyarakat Indonesia masih sangat kurang :(
ReplyDelete